MENSYUKURI KEMERDEKAAN, MENJAGA INDONESIA DENGAN IMAN DAN PERSATUAN

“MENSYUKURI KEMERDEKAAN, MENJAGA INDONESIA DENGAN IMAN DAN PERSATUAN”

Oleh Abah Rahmadi Wirantanus, S.Pd.I.,M.Pd

Disampaikan di Masjid Darul Haq Timbau

 

 

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ،  فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ  قال الله تَعَالَى: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ketakwaan itu bukan hanya soal kesalehan pribadi. Ketakwaan juga harus melahirkan kesalehan sosial: menghadirkan kedamaian, keadilan, persaudaraan, ketertiban, dan kemaslahatan di tengah kehidupan bersama.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Beberapa hari lagi, tepat pada tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 81 Tahun.

Kemerdekaan bukan sekadar perayaan tahunan. Kemerdekaan bukan hanya tentang mengibarkan merah putih, mengikuti perlombaan, memasang umbul-umbul, atau menyelenggarakan berbagai kegiatan seremonial.

Kemerdekaan adalah nikmat.

Kemerdekaan adalah amanah.

Dan kemerdekaan adalah tanggung jawab.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.”
(QS. Ibrahim: 7)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Salah satu nikmat besar yang patut kita syukuri adalah kita hidup di negeri yang merdeka.

Kita dapat melaksanakan salat dengan tenang. Masjid-masjid berdiri. Pesantren berkembang. Anak-anak dapat belajar. Al-Qur’an dapat dibaca dan diajarkan dengan bebas. Kita dapat berdakwah, bekerja, membangun keluarga, dan berusaha mencari kehidupan yang lebih baik.

Semua itu tidak boleh kita pandang sebagai sesuatu yang biasa.

Sebab kemerdekaan yang kita nikmati hari ini dibangun melalui perjuangan panjang generasi sebelum kita.

Ada darah yang tertumpah.

Ada air mata yang mengalir.

Ada keluarga yang kehilangan orang-orang tercintanya.

Ada ulama, kiai, santri, tentara, pemuda, dan rakyat yang mengorbankan tenaga, pikiran, harta bahkan nyawa demi kemerdekaan negeri ini.

Mereka mungkin telah tiada, tetapi amanah perjuangan mereka berada di tangan kita.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Karena itu, pertanyaan bagi kita bukan lagi:

“Apa yang telah dilakukan para pejuang untuk Indonesia?”

Sejarah telah menjawabnya.

Pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri kita adalah:

“Apa yang sedang kita lakukan untuk menjaga Indonesia yang telah mereka perjuangkan?”

Dahulu perjuangan dilakukan dengan mengangkat senjata.

Hari ini perjuangan kita adalah mengangkat ilmu.

Dahulu para pejuang menghadapi penjajah.

Hari ini kita menghadapi kebodohan, kemiskinan, perpecahan, korupsi, narkoba, kekerasan, kemerosotan akhlak, fitnah, dan berbagai kerusakan moral.

Maka mengisi kemerdekaan membutuhkan perjuangan yang tidak kalah besar.

Seorang guru yang mendidik dengan ikhlas adalah pejuang.

Seorang santri yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu adalah pejuang.

Seorang petani yang bekerja dengan jujur adalah pejuang.

Seorang pedagang yang tidak menipu adalah pejuang.

Seorang PNS dan aparatur negara yang bekerja dengan jujur, disiplin, melayani masyarakat dengan baik, tidak menyalahgunakan jabatan, serta menjaga amanah negara adalah pejuang dalam mengisi kemerdekaan.

Seorang pejabat yang menjaga amanah dan tidak mengambil hak rakyat adalah pejuang.

Orang tua yang mendidik anak-anaknya menjadi generasi beriman dan berakhlak adalah pejuang.

Pemuda yang menggunakan kemampuan dan kreativitasnya untuk kemajuan masyarakat juga merupakan bagian dari perjuangan mengisi kemerdekaan.

Inilah jihad pembangunan bangsa pada zaman kita: memberikan manfaat sebesar-besarnya sesuai dengan posisi dan kemampuan masing-masing.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Nilai penting berikutnya dalam menjaga kemerdekaan adalah persatuan.

Indonesia adalah negeri yang besar. Kita berbeda suku, bahasa daerah, adat, budaya, dan latar belakang. Perbedaan itu jangan menjadi alasan untuk saling membenci.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini mengajarkan bahwa keberagaman tidak diciptakan agar manusia saling merendahkan, tetapi agar manusia saling mengenal dan membangun kebaikan.

Maka jangan mudah memecah persaudaraan hanya karena perbedaan pilihan, kelompok, suku, organisasi, atau kepentingan.

Jangan biarkan media sosial menjadikan kita mudah mencaci.

Jangan biarkan berita yang belum jelas kebenarannya mengadu domba sesama anak bangsa.

Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)

Jamaah Jumat rahimakumullah.

Kemerdekaan juga harus melahirkan manusia yang merdeka secara moral.

Jangan sampai negeri kita telah merdeka dari penjajahan bangsa lain, tetapi jiwa kita masih dijajah oleh hawa nafsu.

Merdeka dari penjajah, tetapi diperbudak narkoba.

Merdeka secara politik, tetapi diperbudak korupsi.

Merdeka sebagai bangsa, tetapi diperbudak kebencian.

Merdeka negaranya, tetapi generasinya kehilangan adab.

Merdeka tanah airnya, tetapi manusia kehilangan kejujuran dan tanggung jawab.

Karena itu kemerdekaan yang sejati harus kita isi dengan pembangunan manusia.

Manusia yang beriman.

Manusia yang berilmu.

Manusia yang berakhlak.

Manusia yang mandiri.

Manusia yang mampu berkarya.

Manusia yang ketika mendapatkan jabatan tidak berkhianat, ketika mendapatkan ilmu tidak sombong, ketika mendapatkan kekayaan tidak melupakan orang miskin, dan ketika mendapatkan kekuasaan tidak berlaku zalim.

Inilah generasi yang dibutuhkan Indonesia.

Generasi yang mencintai agamanya tanpa membenci bangsanya.

Generasi yang mencintai tanah airnya tanpa kehilangan nilai agamanya.

Generasi yang kuat imannya, luas ilmunya, mulia akhlaknya, dan nyata kontribusinya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Mari jadikan peringatan 17 Agustus bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi momentum untuk menentukan masa depan.

Kita boleh bangga terhadap kemerdekaan.

Tetapi kebanggaan itu harus dibuktikan dengan perbuatan.

Jika kita cinta Indonesia, maka jagalah persatuannya.

Jika kita cinta Indonesia, jangan rusak negeri ini dengan korupsi.

Jika kita cinta Indonesia, didiklah anak-anak kita dengan baik.

Jika kita cinta Indonesia, hormatilah perbedaan.

Jika kita cinta Indonesia, jagalah kebersihan dan lingkungan.

Jika kita cinta Indonesia, bekerjalah dengan jujur.

Jika kita cinta Indonesia, jadilah manusia yang memberikan manfaat kepada masyarakat.

Dan jika kita ingin Indonesia menjadi negeri yang diberkahi Allah, maka jangan pernah meninggalkan iman dan ketakwaan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.”
(QS. Al-A’raf: 96)

Semoga Indonesia menjadi negeri yang aman.

Negeri yang rakyatnya bersatu.

Negeri yang pemimpinnya amanah.

Negeri yang ulamanya istiqamah.

Negeri yang generasi mudanya berilmu dan berakhlak.

Negeri yang pesantrennya maju.

Negeri yang masyarakatnya saling menghormati.

Negeri yang kekayaan alamnya membawa kesejahteraan bagi rakyatnya.

Dan negeri yang senantiasa berada dalam keberkahan dan perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، وتقبل مني ومنكم تلاوته، إنه هو السميع العليم.

أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات، فاستغفروه، إنه هو الغفور الرحيم.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الِلّٰهِ، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ. فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى: (يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ).

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ تَعَالَى صَلَّى عَلَى نَبِيِّهِ قَدِيْمًا حَيْثُ قَالَ: (إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا). اَللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ.

اللّٰهُمَّ احْفَظْ إِنْدُونِيْسِيَا وَأَهْلَهَا وَشَعْبَهَا، وَاحْفَظْ وَحْدَتَهَا وَسَلَامَتَهَا.

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِشُهَدَائِنَا وَأَبْطَالِنَا وَمَنْ ضَحَّوْا مِنْ أَجْلِ دِيْنِهِمْ وَوَطَنِهِمْ وَأُمَّتِهِمْ، وَارْحَمْهُمْ وَتَقَبَّلْ أَعْمَالَهُمْ.

اللّٰهُمَّ وَحِّدْ قُلُوْبَنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.

اللّٰهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا وَشَبَابَنَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.

اللّٰهُمَّ احْفَظْهُمْ مِنْ فِتْنَةِ الْفَضَاءِ الرَّقْمِيِّ، وَاجْعَلْهُمْ جِيْلًا صَالِحًا، مُتَعَلِّمًا، مُبْدِعًا، وَنَافِعًا لِدِيْنِهِ وَوَطَنِهِ.

اللّٰهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ خَيْرُ الْعِبَادِ وَالْبِلَادِ، وَاجْعَلْهُمْ أُمَنَاءَ عَلَى مَصَالِحِ الشَّعْبِ وَالْوَطَنِ.

اللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا الْعَدْلَ وَالْأَمَانَةَ وَالْعِلْمَ وَالْحِكْمَةَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ بِالْخَيْرِ وَالْإِصْلَاحِ.

اللّٰهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا إِنْدُونِيْسِيَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَاءً رَخَاءً، وَاجْعَلْهَا دَارَ عَدْلٍ وَسَلَامٍ وَرَحْمَةٍ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *