KETIKA LANGIT MENAHAN HUJAN, BUMI MENGAJAK KITA BERMUHASABAH
KHUTBAH ṢALAT ISTISQĀ’
Oleh Abah Rahmadi Wirantanus, S.Pd.I.,M.Pd
Live Facebook Alhurro TV: https://web.facebook.com/share/v/1BZpvTGUFM/
KHUTBAH PERTAMA
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُوْرًا، فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللهِ، وَالتَّوْبَةِ إِلَيْهِ، وَالِاسْتِغْفَارِ مِنْ جَمِيْعِ الذُّنُوْبِ وَالْمَعَاصِيْ، لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ.
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ.
Hari ini kita datang berkumpul di tempat ini bukan sekadar melaksanakan sebuah sunnah. Kita datang membawa kegelisahan. Kita datang membawa harapan. Kita datang membawa dosa-dosa kita. Dan kita datang membawa satu permohonan:
“Yā Allāh, turunkanlah hujan-Mu kepada kami.”
Hadirin Solat Sunnah istisqa yang rahmati Allah swt.
Hari-hari ini sebagian bumi Kalimantan menghadapi musim kering. Tanah mengering. Rumput dan semak mudah terbakar. Api di sebagian tempat menghanguskan lahan dan hutan. Asap mulai menjadi kekhawatiran. Sumber-sumber air di sebagian tempat berkurang.
Maka hari ini jangan hanya kita bertanya:
“Kapan hujan akan turun?”
Tetapi marilah kita bertanya lebih dalam:
“Sudahkah kita kembali kepada Allah?”
Sebab hujan bukan semata-mata peristiwa alam. Bagi orang beriman, hujan adalah rahmat Allah.
Allah berfirman:
وَهُوَ الَّذِيْ يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوْا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُ
“Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dialah Yang Maha Melindungi lagi Maha Terpuji.”
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ
Al-Qur’an mengajarkan kepada kita bahwa keadaan alam tidak boleh dilepaskan begitu saja dari keadaan moral manusia.
Allah berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.”
Perhatikan akhir ayat ini:
لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
“Supaya mereka kembali.”
Bencana bukan alasan bagi kita untuk menunjuk dosa orang lain.
Jangan ketika kemarau datang kita berkata, “Ini karena dosa si fulan.”
Jangan ketika kebakaran datang kita berkata, “Ini azab untuk kelompok tertentu.”
Tetapi tunjuklah diri kita sendiri.
Apa dosa saya?
Apa maksiat yang belum saya tinggalkan?
Hak siapa yang pernah saya ambil?
Siapa yang pernah saya zalimi?
Berapa kali saya meninggalkan kewajiban kepada Allah?
Berapa banyak nikmat Allah yang saya gunakan untuk bermaksiat kepada-Nya?
Karena tujuan peringatan Allah adalah:
لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Agar manusia kembali kepada-Nya.
ISTIGHFAR DAN HUJAN
Nabi Nūḥ ‘alaihissalām pernah memberikan resep kepada kaumnya ketika mereka membutuhkan keberkahan dari langit.
Allah mengabadikannya:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا.
“Aku berkata kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian, memperbanyak harta dan anak-anak kalian, mengadakan kebun-kebun untuk kalian dan mengadakan sungai-sungai untuk kalian.”
Perhatikan urutannya:
اِسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ
Mohonlah ampun kepada Tuhanmu.
Kemudian:
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
Allah akan menurunkan hujan yang melimpah.
Maka salah satu jalan mengetuk pintu langit adalah istighfar.
Diriwayatkan tentang Sayyidina ‘Umar bin al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu ‘anhu bahwa ketika beliau keluar memohon hujan, beliau memperbanyak istighfar. Hal ini sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an bahwa istighfar menjadi sebab turunnya keberkahan dari langit.
Karena itu, jamaah sekalian:
اِسْتَغْفِرُوا اللهَ
Mintalah ampun kepada Allah.
تُوْبُوْا إِلَى اللهِ
Bertaubatlah kepada Allah.
JANGAN HANYA MEMINTA HUJAN, TETAPI PERBAIKI KEHIDUPAN
Allah berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.”
Ayat ini mengatakan:
بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
Keberkahan dari langit dan bumi.
Kita meminta air dari langit.
Tetapi Allah meminta iman dan takwa dari bumi.
Kita meminta:
“Yā Allāh, turunkan hujan.”
Allah mengingatkan:
“Perbaiki hubunganmu dengan-Ku.”
Kita meminta hujan menyuburkan tanah.
Maka suburkan pula hati kita dengan zikir.
Kita meminta Allah membersihkan udara.
Maka bersihkan pula kehidupan kita dari dosa dan kezaliman.
KEBAKARAN DAN TANGGUNG JAWAB MANUSIA
Jamaah sekalian.
Kita juga harus jujur bahwa kebakaran hutan dan lahan bukan hanya persoalan kemarau.
Ada faktor alam, tetapi ada pula faktor manusia.
Karena itu Islam tidak mengajarkan kita hanya berdoa sementara tangan kita sendiri merusak bumi.
Allah berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللهِ قَرِيْبٌ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ
“Janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Maka menjaga hutan adalah ibadah.
Menjaga sungai adalah ibadah.
Tidak membakar lahan sembarangan adalah ibadah.
Menghemat air adalah ibadah.
Menanam pohon adalah ibadah.
Menjaga bumi yang diwariskan kepada anak cucu kita adalah bagian dari amanah kekhalifahan manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ، أَوْ إِنْسَانٌ، أَوْ بَهِيْمَةٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
“Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman atau menabur benih, kemudian dimakan burung, manusia atau binatang, kecuali hal itu menjadi sedekah baginya.”
Inilah Islam.
Islam menyuruh kita menengadahkan tangan ke langit, tetapi pada saat yang sama Islam menyuruh kita menjaga bumi.
JANGAN PUTUS ASA
Saudara-saudaraku.
Walaupun tanah mengering, jangan keringkan harapan.
Walaupun matahari terasa menyengat, jangan padamkan doa.
Walaupun awan belum menurunkan hujan, jangan pernah meragukan rahmat Allah.
Allah mampu mengubah keadaan dalam sekejap.
Allah berfirman:
وَهُوَ الَّذِيْ يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ
Allah mengirim angin, menggerakkan awan yang berat, membawanya menuju negeri yang mati, kemudian menurunkan air dan menghidupkan bumi.
Tidak ada yang sulit bagi Allah.
Maka tundukkan hati kita.
Akui kelemahan kita.
Akui dosa kita.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ وَتُوْبُوْا إِلَيْهِ تَوْبَةً نَصُوْحًا، وَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا.
Jamaah yang dirahmati Allah.
Pada saat ini kita tidak memiliki kekuatan menurunkan satu tetes pun air dari langit.
Teknologi manusia boleh maju.
Ilmu pengetahuan boleh berkembang.
Tetapi manusia tetaplah hamba.
Allah berfirman:
أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِيْ تَشْرَبُوْنَ أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوْهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُوْنَ لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُوْنَ
“Tidakkah kalian memperhatikan air yang kalian minum? Apakah kalian yang menurunkannya dari awan atau Kami yang menurunkannya? Kalau Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin. Mengapa kalian tidak bersyukur?”
Maka hari ini kita datang dengan kehinaan seorang hamba.
Kita balikkan selendang kita sebagai simbol:
Yā Allāh, sebagaimana kami membalikkan pakaian ini, balikkanlah keadaan kami.
Dari kemarau menjadi hujan.
Dari kekeringan menjadi kesuburan.
Dari panas menjadi kesejukan.
Dari kebakaran menjadi keselamatan.
Dari maksiat menjadi taat.
Dari kelalaian menjadi kesadaran.
Dari kerasnya hati menjadi hati yang takut kepada-Mu.
DOA ISTISQĀ’
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ، إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا.
اَللّٰهُمَّ أَغِثْنَا، اَللّٰهُمَّ أَغِثْنَا، اَللّٰهُمَّ أَغِثْنَا.
Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.
اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا، مَرِيْئًا مَرِيْعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ
Ya Allah, berilah kami hujan yang menolong, menyegarkan, menyuburkan, bermanfaat dan tidak membahayakan, yang Engkau segerakan dan tidak Engkau tunda.
اَللّٰهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ
Ya Allah, berilah minum hamba-hamba-Mu dan makhluk-makhluk-Mu. Sebarkanlah rahmat-Mu dan hidupkanlah negeri-Mu yang telah kering.
اَللّٰهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ، وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ
Ya Allah, turunkan kepada kami keberkahan dari langit dan keluarkan untuk kami keberkahan dari bumi.
اَللّٰهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ
Ya Allah, turunkan hujan kepada kami dan jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.
اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْأَطْفَالَ الرُّضَّعَ، وَالْبَهَائِمَ الرُّتَّعَ، وَالشُّيُوْخَ الرُّكَّعَ
Ya Allah, kasihanilah anak-anak kecil, binatang-binatang yang membutuhkan air, dan orang-orang tua yang rukuk kepada-Mu.
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْجُوْعَ وَالْعَطَشَ وَالْقَحْطَ وَالْجَفَافَ وَالْحَرِيْقَ وَالدُّخَانَ وَالْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
Ya Allah, jauhkan dari kami kelaparan, kehausan, kemarau, kekeringan, kebakaran, asap, bencana, wabah dan segala fitnah yang tampak maupun tersembunyi.
DOA KHUSUS UNTUK KALIMANTAN
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا عَامَّةً، وَاحْفَظْ جَزِيْرَةَ كَالِيْمَنْتَانَ خَاصَّةً
Ya Allah, jagalah negeri kami Indonesia, dan secara khusus jagalah bumi Kalimantan.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ غَابَاتِنَا وَأَرَاضِيَنَا وَأَنْهَارَنَا وَمِيَاهَنَا وَزُرُوْعَنَا وَثِمَارَنَا
Ya Allah, jagalah hutan kami, tanah kami, sungai kami, sumber air kami, tanaman dan buah-buahan kami.
اَللّٰهُمَّ أَطْفِئْ حَرَائِقَ الْغَابَاتِ وَالْأَرَاضِيْ، وَادْفَعْ عَنَّا الدُّخَانَ وَالضَّرَرَ وَالْبَلَاءَ
Ya Allah, padamkanlah kebakaran hutan dan lahan. Jauhkan dari kami asap, bahaya dan bencana.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ أَهْلَ كَالِيْمَنْتَانَ الشَّرْقِيَّةِ، وَأَهْلَ كُوتَايْ كَارْتَانِغَارَا، وَأَهْلَ تَنْغَارُونْغ، وَجَمِيْعَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ
Ya Allah, lindungilah masyarakat Kalimantan Timur, masyarakat Kutai Kartanegara, masyarakat Tenggarong, dan seluruh negeri kaum Muslimin.
اَللّٰهُمَّ احْفَظْ رِجَالَ الْإِطْفَاءِ وَفِرَقَ الْإِنْقَاذِ وَكُلَّ مَنْ يَعْمَلُ لِحِفْظِ النَّاسِ وَالْبِيْئَةِ
Ya Allah, lindungilah para petugas pemadam kebakaran, tim penyelamat, dan semua orang yang berjuang menjaga manusia dan lingkungan.
DOA TAUBAT
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
Ya Allah, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, sungguh kami termasuk orang-orang yang merugi.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعْتَرِفُ بِذُنُوْبِنَا، وَنَعْتَرِفُ بِتَقْصِيْرِنَا، وَنَعْتَرِفُ بِضَعْفِنَا
Ya Allah, kami mengakui dosa-dosa kami. Kami mengakui kelalaian kami. Kami mengakui kelemahan kami.
فَاغْفِرْ لَنَا يَا غَفُوْرُ، وَارْحَمْنَا يَا رَحِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا يَا تَوَّابُ، وَأَغِثْنَا يَا مُغِيْثُ
Ampunilah kami, wahai Yang Maha Pengampun.
Rahmatilah kami, wahai Yang Maha Penyayang.
Terimalah taubat kami, wahai Yang Maha Penerima Taubat.
Tolonglah kami dan turunkan hujan kepada kami, wahai Allah Yang Maha Memberi pertolongan.
اَللّٰهُمَّ لَا تَمْنَعْ عَنَّا خَيْرَ مَا عِنْدَكَ بِسُوْءِ مَا عِنْدَنَا
Ya Allah, jangan Engkau tahan kebaikan yang ada di sisi-Mu karena keburukan yang ada pada diri kami.
إِلٰهَنَا، إِنْ كُنَّا لَا نَسْتَحِقُّ رَحْمَتَكَ، فَإِنَّ رَحْمَتَكَ أَهْلٌ أَنْ تَبْلُغَنَا، فَإِنَّ رَحْمَتَكَ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
Tuhan kami, jika amal kami belum pantas mendapatkan rahmat-Mu, maka rahmat-Mu tetaplah layak sampai kepada kami, sebab rahmat-Mu meliputi segala sesuatu.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ وَنَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، يَا سَيِّدَنَا يَا مُحَمَّدُ إِنَّا نَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّنَا فِي كُلِّ حَاجَاتِنَا يَا اللهُ ………… لِتُقْضَى لَنَا
اللَّهُمَّ شَفِّعْهُ فِينَا، اللَّهُمَّ شَفِّعْهُ فِينَا، اللَّهُمَّ شَفِّعْهُ فِينَا، لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ.
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، يَا إِلٰهَنَا وَإِلٰهَ كُلِّ شَيْءٍ
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
