Tenggarong, 28 Juli 2026 – Pondok Pesantren Al Hurro Kalimantan Timur secara resmi memulai Program Karantina 40 Hari Santri Baru yang berlangsung mulai 27 Juli hingga 4 September 2026. Program ini merupakan tahapan awal yang wajib diikuti seluruh santri baru sebagai proses pembentukan karakter, pembiasaan budaya pesantren, serta penanaman nilai-nilai keislaman sebelum memasuki kegiatan belajar mengajar secara penuh.
Karantina 40 hari bukan sekadar masa orientasi, melainkan proses pendidikan intensif yang dirancang untuk membentuk pribadi santri yang disiplin, mandiri, berakhlakul karimah, serta memiliki semangat belajar dan beribadah sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Hurro, Abah Rahmadi Wirantanus, S.Pd.I., M.Pd., menjelaskan bahwa masa karantina merupakan pondasi utama dalam membentuk karakter santri.
“Kami ingin membangun karakter santri sejak hari pertama mereka mondok. Sebelum mereka menjadi penghafal Al-Qur’an atau berprestasi dalam bidang akademik, mereka harus memiliki adab, akhlak, kedisiplinan, kemandirian, serta terbiasa hidup sesuai budaya pesantren. Karantina 40 hari inilah yang menjadi pondasi lahirnya Generasi Qur’ani yang berdaya dan berjaya.”
Selama mengikuti karantina, seluruh santri akan mendapatkan pembinaan intensif yang meliputi:
- Penanaman karakter kesantrian.
- Pembiasaan hidup disiplin dan mandiri.
- Penanaman akhlak Rasulullah ﷺ sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.
- Pembiasaan budaya hidup di lingkungan pesantren.
- Pembinaan ibadah, kebersihan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
- Pembinaan Tahsin dan Tilawati Al-Qur’an.
- Hafalan mufradat Bahasa Arab dan kosakata Bahasa Inggris setiap hari.
- Pembentukan kebiasaan positif melalui jadwal kegiatan selama 24 jam.
Salah satu program unggulan dalam masa karantina adalah penerapan wajib berbahasa Arab dan Bahasa Inggris di seluruh area Pondok Pesantren Al Hurro. Seluruh santri dibiasakan menggunakan kedua bahasa tersebut dalam komunikasi sehari-hari sebagai bagian dari pembentukan Bi’ah Lughawiyah (Language Environment) yang menjadi ciri khas pendidikan di Ponpes Al Hurro.
Melalui pembiasaan ini, santri diharapkan memiliki keberanian berbicara, memperkaya perbendaharaan kosakata, mencintai Bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an dan ilmu-ilmu Islam, sekaligus menguasai Bahasa Inggris sebagai bekal menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan pergaulan global.
Sebagai bentuk komitmen terhadap pembinaan bahasa, Pondok Pesantren Al Hurro menerapkan slogan:
“AREA WAJIB BAHASA ARAB & ENGLISH”
NO ARABIC • NO ENGLISH • NO SERVICE
Slogan tersebut menjadi pengingat bagi seluruh santri agar senantiasa membiasakan diri menggunakan Bahasa Arab atau Bahasa Inggris selama berada di lingkungan pesantren sehingga kemampuan berbahasa tumbuh secara alami melalui praktik dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mendukung keberhasilan proses pembinaan tersebut, pihak pesantren juga menetapkan kebijakan tidak menerima penjengukan santri baru selama masa karantina, yaitu mulai 27 Juli hingga 4 September 2026. Kebijakan ini bertujuan memberikan kesempatan kepada seluruh santri untuk fokus beradaptasi dengan kehidupan pesantren, membangun mental yang kuat, meningkatkan kemandirian, serta mengurangi ketergantungan kepada orang tua selama proses pembentukan karakter berlangsung.
Pondok Pesantren Al Hurro memohon doa, dukungan, serta pengertian dari seluruh wali santri agar bersama-sama menyukseskan program pembinaan ini demi masa depan putra-putri mereka.
Sebagai penutup masa karantina, Pondok Pesantren Al Hurro akan menggelar Hari Temu Kangen Santri Baru bersama Orang Tua pada Sabtu, 5 September 2026. Momentum tersebut menjadi kesempatan pertama bagi para orang tua untuk bertemu kembali dengan putra-putrinya setelah berhasil menyelesaikan program pembinaan intensif selama 40 hari.
Melalui Program Karantina 40 Hari ini, Pondok Pesantren Al Hurro berharap dapat melahirkan generasi santri yang memiliki aqidah yang kokoh, akhlak mulia, disiplin, mandiri, cinta Al-Qur’an, terbiasa berbahasa Arab dan Inggris, serta siap menjadi Generasi Qur’ani yang Berdaya dan Berjaya, membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat.
