MUHASABAH AKHIR TAHUN HIJRIAH: REVITALISASI MURAQABAH DI TENGAH KRISIS INTEGRITAS UMAT

MUHASABAH AKHIR TAHUN HIJRIAH: REVITALISASI MURAQABAH DI TENGAH KRISIS INTEGRITAS UMAT

Khutbah Jumat Oleh

Ust. Rahmadi Wirantanus, S.Pd.I., M.Pd.
Pimpinan Pondok Pesantren Al Hurro Kaltim | Kandidat Doktor PAI UINSI Samarinda

Disampaikan di Masjid Besar Mutmainnah Mangkurawang 12 Juni 2026

 

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى اَشْرَفِ الْاَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، اَشْهَدُاَنْ لَااِلٰهَ اِلَّااللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَ بَعْدَهُ

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَمَّابَعْدُ، فَيَاعِبَادَاللّٰهِ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِىْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، قَال اللّٰهُ تَعَالٰى فِى الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ، اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الْرَّجِيْمِ (يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۙ)

صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ الْحَبِيْبُ الْكَرِيْمُ وَنَحْنُ عَلٰى ذَالِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan bukan sekadar banyaknya ibadah yang tampak, bukan pula banyaknya simbol keagamaan yang dikenakan. Ketakwaan yang sejati adalah hadirnya kesadaran dalam hati bahwa Allah selalu melihat, mendengar, dan mengetahui seluruh amal perbuatan kita.

Kesadaran inilah yang dalam khazanah Islam disebut muraqabah.

Allah SWT berfirman:

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى

“Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah melihat?” (QS. Al-‘Alaq: 14)

Ayat yang singkat ini sesungguhnya merupakan fondasi terbesar bagi lahirnya integritas dan akhlak mulia. Seseorang yang yakin Allah melihatnya akan malu berbuat maksiat. Ia akan jujur meskipun tidak diawasi. Ia akan amanah meskipun memiliki kesempatan untuk berkhianat.

Namun yang menjadi persoalan besar umat hari ini bukanlah kurangnya ilmu agama, bukan kurangnya ceramah dan kajian. Persoalan terbesar kita adalah hilangnya muraqabah.

Akibat hilangnya muraqabah, seseorang bisa tampak saleh di hadapan manusia namun berani bermaksiat ketika sendirian.

Akibat hilangnya muraqabah, seseorang pandai berbicara tentang agama tetapi gagal menghadirkan agama dalam perilakunya.

Akibat hilangnya muraqabah, seseorang sibuk merapikan pakaian keagamaan tetapi lupa merapikan hatinya.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda ketika menjelaskan tentang ihsan:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Dia melihatmu.” (HR. Muslim)

Jamaah Jumat Rahimakumullah,

Hari ini kita menyaksikan berbagai krisis moral di tengah masyarakat.

Ada yang menyalahgunakan amanah.

Ada yang mengkhianati kepercayaan.

Ada yang memanfaatkan jabatan demi kepentingan pribadi.

Bahkan ada yang menggunakan simbol agama untuk menutupi perilaku yang bertentangan dengan agama.

Semua itu pada hakikatnya berpangkal pada satu penyakit yang sama, yaitu hilangnya rasa diawasi oleh Allah SWT.

Padahal Allah berfirman:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

“Allah mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (QS. Ghafir: 19)

Tidak ada ruang tersembunyi dari pengawasan Allah.

Tidak ada rahasia yang luput dari pengetahuan-Nya.

Tidak ada dosa yang benar-benar tertutup dari-Nya.

Karena itu para ulama mengatakan:

مَنْ أَصْلَحَ سَرِيْرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ

“Barangsiapa memperbaiki keadaan batinnya, maka Allah akan memperbaiki keadaan lahiriahnya.”

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Lebih istimewa lagi, beberapa hari lagi kita akan meninggalkan tahun 1447 Hijriah dan memasuki tahun baru 1448 Hijriah.

Pergantian tahun bukan sekadar pergantian angka dalam kalender.

Pergantian tahun adalah panggilan untuk melakukan muhasabah.

Bukan menghitung berapa tahun usia kita bertambah, tetapi menghitung berapa amal yang bertambah.

Bukan menghitung berapa banyak harta yang kita kumpulkan, tetapi menghitung berapa banyak bekal akhirat yang telah kita siapkan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Karena itu mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing:

Apakah shalat kita tahun ini lebih baik daripada tahun lalu?

Apakah Al-Qur’an semakin dekat dengan kehidupan kita?

Apakah amanah yang diberikan Allah telah kita tunaikan dengan baik?

Apakah kita semakin jujur, semakin ikhlas, dan semakin takut berbuat dosa?

Sayyidina Umar bin Khattab رضي الله عنه pernah berpesan:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”

Jangan sampai tahun berganti sementara dosa tetap sama.

Jangan sampai umur bertambah tetapi ketakwaan tidak bertambah.

Jangan sampai ilmu agama bertambah tetapi rasa takut kepada Allah justru berkurang.

Maka tahun baru Hijriah harus menjadi momentum memperbarui taubat, memperbaiki niat, memperkuat integritas, dan menghidupkan kembali muraqabah dalam hati.

Karena perubahan umat tidak dimulai dari banyaknya slogan, tetapi dimulai dari hati yang sadar bahwa Allah selalu melihatnya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kalian.” (QS. An-Nisa’: 1)

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، وتقبل الله مني ومنكم تلاوته، إنه هو السميع العليم

أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Ke II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *