Narkoba Digital dan Hilangnya Arah Generasi

Oleh: Rahmadi Wirantanus

Pagi hari seharusnya menjadi titik awal untuk menata hidup. Namun bagi banyak orang hari ini, pagi justru dimulai dengan kebiasaan yang tampak sederhana: membuka ponsel dan menggulir layar tanpa tujuan.

Scroll.
Scroll lagi.
Tanpa sadar, waktu berlalu.

Fenomena ini terlihat biasa, bahkan dianggap bagian dari gaya hidup modern. Namun jika dicermati lebih dalam, kita sedang menghadapi ancaman yang tidak kalah serius dari narkoba konvensional: narkoba digital.

Istilah ini merujuk pada ketergantungan terhadap perangkat dan konten digital, khususnya media sosial, yang perlahan menggerus fokus, produktivitas, dan arah hidup seseorang.

Data menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan tingkat konsumsi digital yang tinggi. Laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia menyebutkan bahwa penetrasi internet telah melampaui 78 persen populasi. Sementara itu, laporan We Are Social dan Hootsuite mencatat bahwa rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari tujuh jam per hari di internet, sebagian besar untuk media sosial.

Lebih mengkhawatirkan, survei Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menunjukkan bahwa mayoritas pengguna internet membuka media sosial segera setelah bangun tidur dan mengalami kesulitan mengontrol durasi penggunaan gadget.

Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan perubahan mendasar dalam pola hidup masyarakat.

Berbeda dengan narkoba konvensional yang dampaknya terlihat secara fisik, narkoba digital bekerja secara halus. Ia tidak membuat seseorang jatuh seketika, tetapi perlahan mengikis kemampuan untuk fokus, berpikir mendalam, dan mengelola waktu.

Setiap notifikasi, video singkat, atau konten viral memicu pelepasan dopamin di otak—zat kimia yang menimbulkan rasa senang. Mekanisme ini membuat seseorang terus kembali membuka ponsel, bahkan tanpa kebutuhan yang jelas.

Akibatnya, lima menit berubah menjadi satu jam, satu jam menjadi berjam-jam, dan akhirnya menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.

Di sinilah letak persoalan utamanya. Narkoba digital tidak hanya menghabiskan waktu, tetapi juga mengubah peran generasi. Banyak orang hari ini lebih sibuk menyaksikan kehidupan orang lain daripada membangun kehidupannya sendiri.

Media sosial menciptakan ilusi produktivitas. Kita merasa aktif, padahal yang terjadi adalah konsumsi tanpa produksi. Kita mengetahui banyak hal, tetapi tidak benar-benar menghasilkan sesuatu yang bermakna.

Jika kondisi ini terus berlanjut, kita berisiko melahirkan generasi yang kaya informasi, tetapi miskin arah dan tindakan.

Dampak lain yang tidak kalah serius adalah menurunnya kemampuan fokus. Otak manusia menjadi terbiasa dengan stimulus cepat dan instan, sehingga aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi—seperti membaca, belajar, atau berpikir kritis—menjadi terasa berat.

Dalam dunia pendidikan, ini adalah tantangan besar. Peserta didik tidak lagi kesulitan mengakses informasi, tetapi kesulitan untuk memahaminya secara mendalam. Akibatnya, kualitas pembelajaran menurun, meskipun akses terhadap pengetahuan semakin luas.

Namun persoalan ini tidak hanya berhenti pada aspek kognitif. Ia juga menyentuh dimensi moral dan spiritual.

Dalam tradisi Islam, dikenal konsep muraqabah, yaitu kesadaran bahwa setiap aktivitas manusia berada dalam pengawasan Allah. Kesadaran ini seharusnya melahirkan disiplin dan tanggung jawab dalam menggunakan waktu.

Ketika seseorang menghabiskan berjam-jam tanpa tujuan di depan layar, yang hilang bukan hanya waktu, tetapi juga kesadaran diri. Aktivitas yang tampak ringan itu secara perlahan melatih seseorang untuk lalai.

Karena itu, solusi terhadap narkoba digital tidak cukup hanya dengan membatasi penggunaan gadget. Yang dibutuhkan adalah kesadaran yang lebih dalam tentang bagaimana teknologi memengaruhi hidup kita.

Kita perlu mengambil kembali kendali. Mengatur waktu penggunaan perangkat digital, memilih konten secara selektif, dan mengalihkan perhatian pada aktivitas yang lebih produktif dan bermakna.

Lebih dari itu, kita perlu kembali bertanya kepada diri sendiri: apa yang sebenarnya ingin kita capai dalam hidup ini?

Pertanyaan sederhana ini sering kali terlupakan di tengah derasnya arus informasi.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Ia bisa menjadi sarana kemajuan, tetapi juga bisa menjadi sumber kehancuran, tergantung bagaimana kita menggunakannya.

Narkoba digital tidak membuat kita jatuh seketika. Ia membuat kita diam di tempat, sementara waktu terus berjalan.

Dan tanpa kita sadari, masa depan perlahan hilang—bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena kita terlalu lama menunda.

Jangan sampai kita sibuk melihat hidup orang lain, sementara hidup kita sendiri tidak pernah benar-benar kita bangun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *