KHUTBAH IDUL ADHA 1447 H
“Qurban, Kepasrahan, dan Kekuatan Hati di Tengah Ujian Kehidupan”
Oleh: Abah Rahmadi Wirantanus, S.Pd.I.,M.Pd
Khutab I
الله أكبر ×9
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أكبرُ وللهِ الْحَمْدُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأَضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هَذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ. أَللَّهُمَّ صَلَّ وَسَلَّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ
عِبَادَ الرَّحْمَنِ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ الْمَنَّانِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمُ (لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَيكُمْ ۖ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ)
Kaum Muslimin wal Muslimat, jamaah idul adha, Rahimakumullah,
Hari Raya Idul Adha bukan sekadar momentum ritual tahunan, melainkan ruang pendidikan spiritual yang sangat mendalam dalam kehidupan umat Islam. Qurban bukan hanya aktivitas penyembelihan hewan, tetapi simbol penghambaan, ketundukan total, serta rekonstruksi kesadaran ruhani manusia di hadapan Allah SWT.
Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi kompetisi material, krisis moral, tekanan ekonomi, dan kegelisahan psikologis, syariat qurban hadir sebagai pelajaran agung tentang makna ketakwaan, keikhlasan, pengorbanan, dan kepasrahan kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Artinya:
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah ritual dan pengorbanan sosial merupakan dua dimensi yang tidak dapat dipisahkan dalam ajaran Islam. Shalat membangun hubungan vertikal dengan Allah, sedangkan qurban membangun kesalehan sosial dan solidaritas kemanusiaan. Dalam hadis baginda nabi Muhammad saw ditegaskan juga:
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا
“Barang siapa mempunyai kemampuan (berqurban) tetapi tidak berqurban maka janganlah mendekati tempat shalat kami.” (HR Ibnu Majah)
Maka, sepatutnya bagi kita, sebagai orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, untuk memenuhi panggilan berqurban tersebut.
Apabila hari ini belum sempat berqurban, maka masih ada tiga hari setelah hari ini yang dapat dipergunakan untuk berqurban. Tidak lain, semua ini sebagai bukti ketundukan dan kepatuhan kita pada ajaran agama.
Jamaah idul adha rahimakumullah,
Namun, Hakikat qurban sesungguhnya tidak terletak pada darah dan daging semata, melainkan pada kualitas ketakwaan yang lahir dari pengorbanan tersebut.
Allah SWT menegaskan:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
Artinya:
“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”(QS. Al-Hajj: 37)
Karena itu, qurban sejatinya adalah proses penyucian batin. Ia adalah latihan spiritual untuk menyembelih egoisme, kesombongan, kerakusan, cinta dunia yang berlebihan, dan ketergantungan hati kepada materi.
Di sinilah letak relevansi qurban dalam kehidupan modern. Manusia hari ini mengalami kemajuan teknologi, tetapi banyak kehilangan ketenangan batin. Manusia mampu membangun gedung-gedung tinggi, tetapi gagal membangun kejernihan hati. Manusia semakin terkoneksi secara digital, tetapi semakin jauh secara spiritual. Akibatnya, lahirlah berbagai krisis: krisis moral, krisis integritas, krisis keluarga, krisis kepedulian sosial, bahkan krisis makna hidup.
Jamaah Idul Adha rahimakumullah,
Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam peristiwa qurban sesungguhnya merupakan pendidikan tauhid yang sangat mendalam. Nabi Ibrahim diuji dengan sesuatu yang paling beliau cintai, yaitu putranya sendiri, Nabi Ismail ‘alaihissalam.
Allah SWT berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ إِنِّيْ أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّيْ أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يٰٓأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِيْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ
Artinya: “Maka ketika anak itu sampai pada usia mampu berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ (QS. Ash-Shaffat: 102).
Peristiwa ini menunjukkan bahwa fondasi keluarga beriman dibangun di atas nilai ketundukan kepada Allah, bukan semata-mata kepentingan duniawi. Nabi Ibrahim mendahulukan ketaatan dibanding perasaan, sedangkan Nabi Ismail mendahulukan kesabaran dibanding ketakutan.
Karena itu, qurban mengajarkan kepada kita bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala cinta kepada dunia.
Jamaah rahimakumullah,
Kehidupan hari ini tidak lepas dari berbagai ujian: tekanan ekonomi, ketidakstabilan sosial, konflik keluarga, kegelisahan mental, bahkan hilangnya arah spiritual manusia modern.
Namun seorang mukmin tidak boleh kehilangan optimisme.
Allah SWT berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ
Artinya:
“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Ayat ini mengajarkan bahwa ujian bukan tanda kebencian Allah, tetapi bagian dari proses pendidikan ruhani agar manusia kembali menyadari kelemahannya di hadapan Allah SWT.
Jamaah rahimakumullah,
Mungkin hari ini ada di antara kita, ada yang sedang memendam kesedihan.
Ada yang memikirkan nafkah keluarganya.
Ada yang sedang menghadapi sakit yang panjang.
Ada yang sedang diuji hutang dan kesulitan hidup.
Ada yang terlihat tersenyum di hadapan manusia, tetapi hatinya sedang lelah menghadapi kehidupan.
Namun ketahuilah…
Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Allah SWT berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6)
Karena itu jangan pernah putus asa.
Boleh jadi kita belum kaya secara materi, tetapi jangan sampai miskin iman.
Boleh jadi rumah kita sederhana, tetapi jangan sampai hati kita jauh dari Allah.
Boleh jadi hidup kita penuh ujian, tetapi jangan sampai kita kehilangan sujud kepada Allah SWT.
Jamaah rahimakumullah,
Qurban juga mengajarkan dimensi sosial Islam. Pada hari ini, orang-orang miskin ikut merasakan kebahagiaan. Rumah-rumah yang lama tidak memasak daging kembali merasakan nikmat Allah SWT. Inilah wajah Islam yang penuh kasih sayang dan kepedulian sosial.
Rasulullah SAW bersabda:
مَا آمَنَ بِيْ مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ
Artinya:
“Tidak sempurna iman seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya lapar di sampingnya dan ia mengetahuinya.” (HR. Al-Bazzar dan Ath-Thabrani)
Maka Idul Adha seharusnya melahirkan kepekaan sosial, bukan sekadar seremonial keagamaan.
Kaum Muslimin wal Muslimat, jamaah idul adha, Rahimakumullah,
Hari ini kita menyaksikan banyak manusia hidup dalam budaya konsumtif. Tidak sedikit yang memaksakan gaya hidup demi gengsi, sampai terjerat utang dan kehilangan ketenangan hidup.
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:
مَا عَالَ مَنِ اقْتَصَدَ، وَلَا أَفْلَحَ مَنْ أَسْرَفَ
“Tidak akan miskin orang yang hidup sederhana, dan tidak akan beruntung orang yang berlebih-lebihan.”
Islam mengajarkan keseimbangan. Hidup sederhana bukan berarti hina. Justru kesederhanaan sering menjadi jalan keselamatan.
Imam Syafi’i rahimahullah berkata:
رَأَيْتُ الْقَنَاعَةَ رَأْسَ الْغِنَى فَصِرْتُ بِأَذْيَالِهَا مُتَمَسِّكَا
“Aku melihat qanaah adalah puncak kekayaan, maka aku pun berpegang erat dengannya.”
Maka, meski di tengah situasi ekonomi yang sulit, jangan sampai kesulitan mendorong kita mengambil jalan yang haram: riba, korupsi, manipulasi, penipuan, dan kezaliman. Sebab keberkahan hidup bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada halalnya rezeki.
Sebagian ulama saleh terdahulu berkata:
قَلِيلٌ مِنَ الْحَلَالِ خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ مِنَ الْحَرَامِ
“Sedikit tetapi halal lebih baik daripada banyak tetapi haram.”
Mungkin penghasilan kita kecil, tetapi jika halal dan penuh keberkahan, ia akan membawa ketenteraman bagi keluarga. Sebaliknya, harta haram mungkin tampak besar, tetapi sering menjadi sebab kegelisahan dan kehancuran hidup.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Jamaah rahimakumullah,
Sebelum khutbah ini saya akhiri, marilah kita merenung sejenak…
Bisa jadi ini adalah Idul Adha terakhir dalam hidup kita.
Bisa jadi tahun depan ada di antara kita yang sudah tidak lagi mendengar gema takbir…
tidak lagi berdiri di shaf shalat…
tidak lagi berkumpul bersama keluarga…
Karena itu, sebelum terlambat:
- perbaikilah shalat kita,
- muliakanlah orang tua kita,
- bahagiakan keluarga kita,
- dan dekatkan kembali hati kita kepada Allah SWT.
Karena sesungguhnya yang paling berat bukan menyembelih hewan qurban…
Tetapi menyembelih:
- ego,
- kesombongan,
- dendam,
- kemarahan,
- dan hawa nafsu di dalam diri kita sendiri.
Kaum Muslimin wal Muslimat, ‘sholat idul adha, Rahimakumullah,
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang sabar dalam ujian, ikhlas dalam pengorbanan, kuat dalam perjuangan, dan tetap istiqamah di tengah perubahan zaman.
إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلَامِ كَلَامُ اللهِ الْمَلِكِ المْنَاَّنِ، وَبِهِ يَهْتَدِي الْمُهْتَدُونَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ، فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ، اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُࣖ
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ منِّيْ وَمِنْكُمْ تَلاَوَتَهُ إِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ، لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
Khutbah II
7 لاَ إلِهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ. x اللهُ أَكْبَرُ،
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرْ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَاماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرْ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلاَئِقِ وَالْبَشَرْ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْمَحْشَرْ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ! اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمْ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنْ، وَعَلَيْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنْ.
اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
اَللّهُمَّ انْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْفَاجِرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ،اللهم انصر المسلمين في كل مكان وخاصة في فلسطين، واخذل من خذل المسلمين، واجعل بلدتنا إندونيسيا بلدة آمنة مطمئنة. ونَسْأَلُكَ اللهُمَّ دَوَامَ الْعِنَايَةِ وَ التَأْيِيْدِ، لِحَضْرَةِ مَوْلاَنَا سُلْطَانِ الْمُسْلِمِيْنَ، الْمُؤَيَّدِ بِالنَّصْرِ وَ التَّمْكِيْنِ.
اللهُمَّ انْصُرْهُ وَانْصُرْ عَسَاكِرَهُ، وَ امْحَقْ بِسَيْفِهِ رِقَابَ الطَّائِفَةِ الْكَافِرَةِ، وَ أَيِّدْ بِشَدِيْدِ رَأْيِهِ عِصَابَةَ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَ اجْعَلْ بِفَضْلِكَ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنَّا، وَارْفَعِ اللهُمَّ مَقْتَكَ وَ غَضَبَكَ عَنَّا، وَ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لاَ يَخَافُكَ وَ لاَ يَرْحَمْنَا يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللهُمَّ إِيَّاكَ نَسْأَلُ فَلاَ تُخَيِّبْنَا، وَإِلَيْكَ نَلْجَأُ فَلاَ تَطْرُدْنَا، وَعَلَيْكَ نَتَوَكَّلُ فَاجْعَلْنَا لَدَيْكَ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. آمِيْنَ يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
